Usia SD Buruh Angon dan Ngarit - Kisah Singkat Penyusun Metode Al Mu'allim - Part.1
Nama penyusun Metode Al Mu'allim adalah Dawam Mu'allim. Menurut cerita dari emaknya bahwa nama Dawam Mu'allim diberikan oleh beberapa kyai dan kakek dari jalur emaknya. Dawam Mu'allim ketika lahir diberi nama Masrur oleh kedua orang tuanya, dengan harapan agar selalu gembira, senang dan bahagia, sesuai dengan makna Masrur dalam Bahasa Arab. Tetapi pada kenyataannya dia selalu menangis mulai menjelang magrib hingga tengah malam, sehingga para guru dan kyai bermusyawarah untuk mengganti namanya menjadi Dawam yang bermakna tetap atau lenggeng, kemudian ditambah Mu'allim yang bermakna seorang pendidik atau pengajar ilmu pengetahuan.Dawam Mu'allim berarti kelanggengan seorang guru. Dawam Mu'allim lahir di dusun Babak, desa Babak Tulung, Kec. Sarang, Kab. Rembang, Prov. Jawa Tengah - Indonesia. Pada hari Kamis Legi waktu dhuha, tanggal 3 Jumada al Kubra 1398 H, bertepatan dengan tanggal 11 Mei 1978 M. Namun karena pertama kali emaknya mendaftarkan dirinya sekolah SD belum memiliki akte kelahiran dan emaknya hanya hafal hari lahir, tanggal dan tahun hijriyahnya saja, maka emaknya memperikaran tanggal masehinya disesuaikan dengan tanggal berdirinya Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU), yaitu tanggal 31 Januari, maka ijazah, KTP dan SIM tertulis tanggal 31 Januari 1978.Bapaknya Dawam Mu'allim bernama Kunadi bin Waridan bin Syuro bin Sembara. Sedangkan emaknya bernama Dasri binti Tarsimin Haji Abdurrahman bin Wardi. Emaknya seorang janda ditinggal mati suaminya yang memiliki tiga anak laki-laki semuanya, kemudian menikah dengan bapaknya yang berstatus seorang duda tidak punya anak. Usia emaknya lebih tua tiga tahun dari pada usia bapaknya, karena emaknya kelahiran tahun 1947 M, sedangkan bapaknya kelahiran tahun 1950 M.Motovasi bapaknya menikahi janda anak tiga karena ingin mengasuh dan mendidik anak yatim. Emaknya setelah menikah dengan bapaknya memiliki enam anak, tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Sedangkan Dawam Mu'allim adalah anak ke-enam dari sembilan bersudara yang seibu, dan anak yang ke-tiga dari saudara yang seayah dan seibu. Nama-nama saudaranya yang seibu saja adalah: DarmajiWazirKhoiron.Nama-nama yang seayah dan seibu adalah:Abdul Mun'imMunifahDawam Mu'allimMunirohMiftahuddinMuthori'ah.Singkat cerita, bapak dan emaknya sangat menginginkan anak perempuan, karena tiga anak pertama laki-laki semua, kemudian lahir anak ke-empat laki-laki lagi. Alhamdulillah anak yang kelima lahir perempuan, akan tetapi belum genap dua tahun bergembira atas keliharan anak perempuan, tiba-tiba sudah lahir lagi anak laki-laki yang diberi nama Masrur. Tetapi beberapa hari kemudian diganti dengan nama Dawam Mu'allim.Menurut kisah dari emak bahwa ia sudah belajar mandiri sejak kecil ketika sudah mulai bisa berjalan. Banyak orang yang mengira bahwa penyusun Metode Al Mu'llim adalah anak orang kaya, serba kecukupan, serta tumbuh dewasa dengan memiliki banyak kesempatan waktu untuk mengaji dan belajar, padahal tidak, tidak sama sekali, justru sebaliknya. Ketika usia menginjak lima tahun, jumlah saudaranya sudah sebanyak delapan anak, ditambah lagi enam anak dari saudara sepupunya yang ditinggal wafat oleh ibunya.Karena emaknya memiliki satu orang adik perempuan yang bernama Kiswati, beliau wafat setelah memiliki enam anak. Keenam saudara sepupunya bernama:AsriyahDakhoriHalimahAbdurrahmanKhoiriyahDarkum.Emaknya harus merawat delapan anaknya sendiri ditambah enam anak keponakan, total berjumlah empat belas anak yang masih kecil-kecil, hanya anak pertama saja yang sudah dewasa, yaitu Darmaji dan Asriyah. Melihat emaknya yang sering menumbuk jagung, mencari kayu bakar, mengambil air dari sumur, mencuci, memasak, dan mengirim makanan ke sawah atau ke ladang, semua itu dikerjakan sambil menggendong dua anak kecil, yang satu anak sendiri dan yang satu anak keponakan, maka ia kasihan dan iba kepada emaknya. Hampir saja ia tidak mampu masuk ke sekolah SD, karena kakak-kakaknya masih sekolah semua. Namun ia tetap semangat belajar di sekolah madrasah sore bernama Madrasah Thoriqotul Huda di dusunnya.Kebetulan bapaknya ketika itu juga masih aktif mengajar di madrasah tersebut bidang ilmu Bahasa Arab dasar (Ro'sun Sirah). Sebelum masuk SD, Dawam Mu'allim sudah khatam ngaji al Qur'an sebanyak dua kali. Pertama khatam al Qur'an ngaji di hadapan kakak tertuanya sendiri yaitu Ust. Darmaji, kemudian khatam kedua ngaji di hadapan KH. Zubaidi Khalil bin Mansur. Sudah kelas dua madrasah sore namun ia masih belum juga masuk sekolah SD, karena kedua orang tuanya tidak memiliki biaya untuk membeli sepatu dan seragam sekolah. Maka ia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menjadi buruh gembala sapi dan tukang ngarit di rumah kakak tertuanya yang sekaligus menjadi guru ngajinya itu. Kemudian dengan berat hati dan meneteskan air mata, kedua orang tuanya terpaksa memberi izin anak sekecil itu harus menjadi buruh gembala sapi dan tukang ngarit.